Beranda Pendidikan Guru SMKN 1 Tualang Keluhkan Tak Ada Pagar Sekolah, Siswa Sering Bolos...

Guru SMKN 1 Tualang Keluhkan Tak Ada Pagar Sekolah, Siswa Sering Bolos dan Merokok di Warung

433

PERAWANG (Infosiak.com) – Pembangunan sarana prasarana sekolah sebaiknya harus diperhitungkan dengan baik. Tak hanya dipertimbangkan dari segi fasilitas, dari segi keamanan dan kenyamanan juga wajib untuk diperhatikan.

Sayangnya, ada beberapa sekolah yang ada di Kecamatan Tualang Kabupaten Siak belum memiliki sarana yang lengkap seperti pagar.

Pagar permanen ini dinilai sangat penting oleh pihak sekolah. Sebab, hal tersebut menjadi pemicu beberapa siswa melakukan sesuatu hal di luar kegiatan sekolah, dan bahkan guru sulit melakukan pengawasan apa yang dilakukan siswa. Hal ini diungkapkan oleh Kepala SMK Negeri 1 Tualang, Rozian Elpis MPd dan beberapa guru di sekolah tersebut.

“Kami menilai pagar merupakan suatu sarana yang sangat prioritas di sekolah ini, karena dampaknya sangat besar, dari segi keamanan dan kenyamanan sehingga membuat proses belajar mengajar kurang maksimal,” kata Kepala SMKN 1 Tualang, Rozian Elpis MPd, kepada Infosia.com, Selasa (11/12/2018) kemarin.

Rozian menjelaskan mulai dari persoalan sulitnya mengontrol siswa sampai terjadinya tindakan kriminal akibat tidak adanya pagar pembatas di sekolah.

Baca Juga:  Satu-satunya di Riau, Bupati Syamsuar Wisuda Santri Tahfidz Quran SMAN 1 Tualang

Dalam hal pengawasan, dia mengungkapkan upaya itu rutin dilakukan apalagi saat jam pelajaran.

Namun pengawasan terhadap seluruh siswa cukup sulit ketika masuk jam istirahat. Karena ketika jam istirahat kebanyakan siswa berada di luar area pekarangan seperti di warung-warung samping sekolah. Sehingga, sangat mudah beberapa siswa untuk bolos sekolah atau cabut.

Smkn 1 tualang siak riau
Salah satu ruas jalan kecil tempat lintasan siswa keluar dari pekarangan sekolah.jpg

Tak sedikit para siswa yang mengambil jam istirahat untuk kesempatan bolos sekolah.

“Ketika jam istirahat selesai, sering kejadian beberapa siswa yang masih saja nongkrong di luar pekarangan sekolah. Seperti di warung yang ada di samping sekolah ini. Kami pernah beberapa kali memergoki siswa merokok di warung itu. Sebagian ada yang membuang rokoknya dan sebagian ada juga yang lari ke arah hutan. “Bahkan, kami (guru) pernah mengejar sampai ke dalam hutan,” ungkapnya.

Bagi siswa yang ketahuan merokok, sekolah juga sudah memberikan berbagai hukuman seperti membersihkan kamar mandi, mencuci piring dan memanggil orang tua. Namun, kata Ibu kepsek ini, setelah dilakukan hukuman, hanya efektif beberapa hari saja, kemudian siswa kembali melakukan hal yang sama. Anehnya, pihak warung samping sekolah masih menjual rokok kepada siswa berseragam sekolah.

Baca Juga:  Siswa SMPN3 Tualang Ikuti Pesantren Kilat

Selain itu, tidak hanya berdampak terhadap siswa, namun tingkat kriminal seperti tindak pencurian di sekolah hampir rutin terjadi.

Beberapa kali sekolah kehilangan alat kelengkapan untuk proses belajar mengajar seperti komputer, tabung gas LPG yang merupakan alat praktek siswa dan kursi kelas, bahkan instalasi listrik bangunan sekolah sempat dua kali digondol pencuri.

“Instalasi listrik pernah dua kali dicuri maling. Bahkan ketika itu yang tinggal cuma instalasi kantor, ruang kimia dan mushalla. Mesin pompa air, alat praktek seperti tabung gas LPG, komputer 3 unit. Itulah susahnya tidak ada pagar,” keluhnya.

“Saya pernah berdiri ketika itu sambil melihat penjaga sekolah merapikan plafon. Waktu itu tiba tiba keluar dari arah belakang sekolah lihatorang menggondol tiga kursi plastik dengan menggunakan sepeda motor. Padahal kita ada di sekolah tapi mereka masih juga mencuri barang milik sekolah,” terangnya.

Baca Juga:  Enaknya Mahasiswa Asal Siak Kuliah Gratis di Surabaya

Lanjut Rozian, tak cukup sampai disitu saja, guru pernah melihat beberapa orang datang dari luar sekolah tanpa izin. Mereka masuk ke dalam pekarangan sekolah dan nongkrong bersama siswa. Sehingga membuat guru menegur dan menyampaikan bahwa yang tidak berkepentingan tidak diperkenankan masuk ke pekarangan sekolah. “Kita usir karena takut terjadi sesuatu yang tak diinginkan di sekolah seperti narkoba,” tuturnya.

Pihak sekolah sudah pernah membuat pagar dari bahan bambu, namun tak bertahan lama. Kemudian dari kawat berduri pun sudah pernah dibuat pihak sekolah, tapi tetap saja tidak bertahan lama.

Saat ini sekolah terus berupaya meminta bantuan untuk membangun pagar pembatas. Sebab, sekolah menilai pagar pembatas menjadi sarana prioritas demi lancarnya proses belajar mengajar.

Laporan : Jhon
Editor : Afrijon

loading...