TUALANG, (Infosiak.com) – Kondisi infrastruktur Jalan AMD di simpang Bunut yang akses Jalan Kampung Pinang Sebatang Timur dan Kampung Pinang Sebatang Barat Kecamatan Tualang Kabupaten Siak kini menjadi sorotan tajam. Kerusakan jalan disejumlah titik yang terus berulang alias jadi “langganan” kerusakan, memicu keluhan, dimana keseharian warga harus berjibaku dengan kemacetan dan risiko kecelakaan.
Truk-truk bertonase besar terlihat hilir mudik secara intensif. Jalur itu diketahui merupakan akses vital menuju beberapa objek vital dan pelabuhan, di antaranya
Pelabuhan PT Indah Kiat (Rasau Kuning), Pelabuhan Pelindo, PT HABI, maupun aktivitas operasional perusahaan lainnya.
Berdasarkan pantauan di lapangan, kerusakan jalan itu diduga kuat akibat beban kendaraan yang melampaui kapasitas. Selain kendaraan pribadi masyarakat, ruas jalan tersebut menjadi jalur utama bagi armada angkutan berat milik berbagai perusahaan besar di wilayah tersebut.
Hal itu diakui oleh Rudi Hardianto selaku penghulu kampung pinang sebatang barat. Menurutnya, kerusakan jalan AMD simpang empat Bunut terjadi akibat truk-truk yang over tonase.
“Tonase yang tak sesuai dengan kapasitas jalan yang sudah tak layak” terang Rudi.
Ia menyampaikan, pihak kampung (desa) telah melakukan swadaya guna perbaikan jalan, dan ada bantuan material dari pihak perusahaan.
“Sampai saat ini belum dapat solusi, belum ada progres. Sudah kita laporkan ke PU Kabupaten, untuk permohonan kita sudah masuk ke PU provinsi.
Dan ke seluruh pihak sudah kita sampaikan permasalahan jalan simpang Bunut,”
Sementara itu masyarakat setempat mulai menyuarakan kegelisahan mereka. Menurut warga, perbaikan yang selama ini dinilai terkesan hanya formalitas atau “tambal sulam”, karena jalan kembali rusak dalam waktu singkat setelah diperbaiki.
”Di sini pusat kemacetan. Jalan terus-menerus rusak meski sudah beberapa kali diperbaiki. Kami meminta pihak terkait segera mencari akar masalahnya. Kalau perlu dilakukan rigid (pembetonan) agar lebih kuat menahan beban,” ujar Furkon salah seorang warga.
Ia menambahkan, mengingat banyaknya perusahaan transportasi dan subkontraktor, terutama yang bernaung di bawah operasional perusahaan besar, warga berharap ada sinergi nyata antara pemerintah dan sektor swasta.
Warga menilai perusahaan yang menggunakan fasilitas publik sebagai jalur logistik utama sudah seharusnya memberikan kontribusi lebih dalam pemeliharaan infrastruktur. Hal tersebut dimaksudkan demi menjaga keselamatan pengguna jalan dan kelancaran ekonomi masyarakat sekitar yang ikut terdampak akibat debu dan kemacetan panjang.
Hingga berita ini diturunkan, masyarakat berharap semua pihak segera duduk bersama guna mencari solusi jangka panjang agar Jalan AMD tidak lagi menjadi “langganan” kerusakan.
Laporan: Ika Rahman









